Apa yang kita bayangkan ketika bertemu seorang perempuan berusia remaja yang masih duduk di bangku SMA yang lingkungannya bukan berlatar di kota besar dengan hiruk pikuk kebisingan dan percampuran budaya di dalamnya? Ya, sebagian kita akan beranggapan dan berpendapat bahwa remaja perempuan tersebut akan memiliki gaya hidup yang kulot, pola pikir yang belum memiliki kebebasan seperti yang kita temui di kota-kota besar pada saat sekarang ini.
Film Yuni menyajikan sebagian kecil dari ketidak setaraan gender yang diakibatkan dari budaya patriarki yang masih sering kita temui di beberapa daerah di Indonesia. Sutradara Kamila Andini mengajak penonton melihat dan merefleksikan diri tentang bagaimana pahitnya menjadi seorang perempuan di beberapa daerah di Indonesia lewat Film Yuni.
Yuni, (Arawinda Kirana) yang tengah menempuh pendidikan SMA dan akan lulus, berniat melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Yuni merupakan siswi yang pintar, sehingga kepintarannya dilirik oleh Ibu Lies (Marissa Anita). Ibu Lies berniat membantu Yuni untuk melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan dengan jalur beasiswa.
Yuni memiliki daya tarik khusus yang tentu saja dilihat dari kaca mata pria. Hal ini terbukti dari cerita pada film bahwa Yuni dilamar oleh dua orang pria. Mitosnya, jika menolak lamaran tersebut jodohnya akan semakin jauh. Sehingga Yuni menjadi dilema antara melanjutkan pendidikan, atau malah memilih untuk menikah di usia yang masih belia. Apalagi Yuni melihat sahabatnya Suci (Asmara Abigail) yang memiliki traumatic terhadap pernikahan. Suci merupakan janda yang menjadi korban KDRT sehingga memilih untuk berpisah dengan suaminya. Hal inilah yang membuat Yuni berpikir tentang pernikahan.
Potongan Film Yuni
Dalam film Yuni, Kamila Andini yang merupakan Sutradara pada film ini membahas isu mengenai perempuan. Dalam penceritaan, Yuni dilemma antara dua pilihan, yaitu antara melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, atau menerima lamaran dari pria yang melamarnya. Yuni mempertanyakan pertanyaannya kepada orang tuanya, namun Yuni tidak mendapatkan jawaban dan solusi. Sehingga Yuni seakan dipaksa untuk memilih jalannya sendiri. Sementara dari orang-orang sekitarnya, Yuni diisyaratkan untuk segera menikah. Hal ini sepertinya mengikat Yuni dalam memilih jalan hidupnya sendiri.
Jika kita berbicara mengenai film, secara tidak langsung kita mengaitkannya dengan cultur karena film itu sendiri merupakan sebuah produk yang merepresentasikan sebuah kebudayaan yang telah dikonstruksi. Cultural studies dapat dipahami sebagai studi kebudayaan yang merupakan pemaknaan representasi. Representasi dan makna kebudayaan itu sendiri melekat pada bunyi, prasasti, objek, citra, program televisi, majalah, dan tentu saja film.
Pada bagian awal film, diceritakan bahwa sekolah akan melaksanakan tes keperawanan. Hal ini terkesan bahwa perawan atau tidaknya seorang perempuan bukan lagi menjadi ranah privasi seorang perempuan. Sepertinya film ini berniat memberikan refleksi kepada beberapa pihak tentang ranah privasi mana yang bisa diketahui dan yang tidak. Yang terpenting, pendidikan sex seharusnya penting untuk diketahui manusia di usia remaja.
Karakter Yuni dikonstruksi dengan matang oleh seorang Kamila Andini, hal ini terlihat dari warna yang dikenakan ketika ada Yuni di dalam frame. Ungu, warna yang menggambarkan seorang janda. Hal ini pun sepertinya sudah menjadi turun temurun sehingga timbul pengklasifikasian bahwa yang gemar mengenakan benda ataupun barang berwarna ungu merupakan pecinta janda, jika seorang laki-laki. Atau merupakan seorang janda, jika perempuan.
Pertemuan Yuni dengan Suci membuat Yuni merasa bebas. Banyak hal yang kemudian Yuni lakukan dengan berani tanpa memikirkan banyak hal yang mengganggu pikirannya sebelumnya. Hingga pada akhirnya, Yuni mendapatkan jawaban-jawaban dari Suci tentang asam-manis tentang pernikahan berdasarkan pengalaman Suci.
Kembali kepada cultur, salah satu unsur yang sangat jelas tentang kebudayaan dapat kita dengar melalui suara, tepatnya dialog. Bahasa Jawa Serang menjadi pilihan Kamila Andini. Hal ini sepertinya sengaja dieksplorasi Kamila Andini agar tetap menjaga lokalitas Indonesia yang dibangun pada film ini. Arawinda Kirana juga dibilang sukses dalam menggunakan Bahasa ini.
Debut Arawinda Kirana dalam melakoni karakter Yuni dapat diaacungi jempol. Hal ini terlihat dengan suksesnya Arawinda meraih Piala Citra untuk kategori pemeran utama perempuan terbaik. Kemudian, arawinda juga berhasil meraih penghargaan Snow Leopard untuk aktris terbaik di Asian World Film Festival 2021. Selain itu, juga ada beberapa penghargaan lainnya seperti aktris utama pilihan Tempo (2021), Aktris Utama Terpilih Piala Maya (2022), dan juga Best Actress pada Red Sea International Film Festival.
Selain pada bahasa yang digunakan, unsur kebudayaan pada film ini juga terlihat pada beberapa adegan yang memperlihatkan bagaimana Yuni melakukan latihan pencak silat. Sama-sama kita ketahui bahwa pencak silat juga merupakan sebuah kebudayaan.
Kebudayaan sepertinya menjadi nilai tersendiri jika dikenakan pada sebuah film yang akan dikonsumsi oleh public dari berbagai kalangan. Pernyataan ini dapat kita lihat juga dari beberapa film Indonesia yang sukses dengan cerita atau memiliki latar belakang kebudayaan.
Secara garis besar, film Yuni digarap dengan baik oleh Kamila Andini beserta tim. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai penghargaan yang telah diraih oleh film ini seperti salah satunya meraih Platform Prize pada Toronto International Film Festival.
Dalam lanskap perfilman Indonesia yang kerap tersentralisasi di Pulau Jawa, Women from Rote Island muncul sebagai angin segar sekaligus napas pilu yang mengingatkan kita pada luka-luka lama yang belum sembuh. Film ini tidak hanya berbicara tentang duka sebuah keluarga yang kehilangan kepala rumah tangga, tetapi juga menghadirkan potret luka struktural yang menimpa perempuan dari wilayah pinggiran Indonesia: Nusa Tenggara Timur.
Dengan pendekatan realisme, Women from Rote Island karya Jeremias Nyangoen menjadi saksi bisu dari bagaimana tubuh perempuan menjadi medan tempur berbagai bentuk kekerasan: dari kolonialisme ekonomi, patriarki, hingga pengabaian negara. Tokoh utama. Orpa (Merlinda Adoe), adalah pintu masuk kita ke dalam tragedi ini.
Cerita dimulai dengan duka. Abram, suami Orpa, meninggal dunia. Tapi Orpa menunda pemakamannya selama delapan hari, dengan harapan Martha yang merupakan anak sulungnya yang bekerja sebagai TKI di Malaysia bisa pulang dan melihat wajah sang ayah untuk terakhir kali. Adegan ini secara simbolik memotret bagaimana duka tidak pernah menjadi urusan individu, tetapi selalu berkelindan dengan struktur sosial, waktu, dan trauma keluarga.
Orpa digambarkan sebagai perempuan kuat namun terkoyak. Ia tidak hanya berperan sebagai ibu, tapi juga penjaga kehormatan keluarga, pemegang nilai adat, dan sekaligus tameng dari kehancuran. Dalam konteks budaya Rote dan banyak masyarakat Timur Indonesia, perempuan seperti Orpa seringkali memikul beban berlapis: mereka harus Tangguh, sekaligus diam.
Keputusan Orpa untuk menunda penguburan bukan hanya tindakan spiritual atau kultural, melainkan bentuk kecil dari perlawanan. Ia menentang ritus dan desakan sosial demi memberi ruang kepada anaknya. Ruang yang seharusnya dimiliki perempuan tapi kerap direbut oleh sistem adat dan norma maskulin.
Kembalinya Martha dari Malaysia menjadi titik balik dalam narasi film ini. Tubuhnya yang penuh luka dan ekspresinya yang kosong menjadi metafora paling gambling tentang kekerasan yang menimpa para perempuan migran Indonesia. Ia bukan sekedar korban pelecehan seksual oleh majikannya, melainkan korban dari sistem migrasi tenaga kerja yang timpang.
Dalam banyak kasus nyata, perempuan dari Indonesia Timur bekerja sebagai buruh migran karena terdesak keadaan ekonomi dan minimnya akses terhadap Pendidikan. Negara membuka jalan legalisasi pengiriman TKI tanpa memberikan perlindungan maksimal. Mereka dihisap oleh sistem ekonomi global yang masih berwatak colonial, di mana “tenaga murah” dari dunia ketiga menjadi tulang punggung industri perkebunan, rumah tangga, dan jasa di negara-negara tetangga.
Majikan Martha yang disebut “Datuk”, bukan hanya individu predator, tetapi simbol kekuasaan partriarki transnasional. Ia merepresentasikan struktur kapitalisme global yang mengeksploitasi tubuh perempuan sebagai objek kerja sekaligus seks. Yang lebih menyakitkan, setelah kembali ke kampung halaman pun, Martha tetap tidak aman. Ia menjadi korban kekerasan seksual kedua kalinya, kini dari lingkungan yang mestinya melindunginya. Ini menegaskan bahwa perempuan miskin dari pinggiran tidak pernah benar-benar memiliki tempat aman, baik di tanah asing maupun di tanah sendiri.
Dari sudut pandang teori feminis pascakolonial, Women from Rote Island adalah karya penting karena memberikan panggung bagi suara perempuan dari wilayah yang selama ini dipinggirkan dalam wacana nasional. Perempuan Timur, terutama Rote, Sumba, atau Flores sering kali hanya muncul sebagai stereotip: eksotis, pekerja keras, atau korban. Film ini membalikkan narasi tersebut dengan memberikan agensi kepada tokohnya, terutama Orpa dan Martha.
Kamera tidak memotret mereka sebagai objek penderita, melainkan sebagai subjek yang mengalami, berjuang, dan menyimpan trauma. Estetika film yang hening, penuh lanskap kering dan rumah-rumah sederhana, memberi ruang bagi penonton untuk menyimak kesunyian yang memekakkan – sunyi dari pengakuan, sunyi dari keadilan, dan sunyi dari negara.
Film ini juga memposisikan dirinya sebagai ruang kesaksian (testimonial space). Ia tidak menyajikan solusi cepat atau narasi pahlawan, tetapi menentang kita untuk melihat realitas yang selama ini dihindari media arus utama: bahwa kekerasan terhadap perempuan bukanlah insiden, melainkan sistem.
Salah satu kekuatan ini terletak pada kemampuannya memperlihatkan absennya negara dan diamnya adat sebagai dua kutub kekuasaan yang mestinya melindungi masyarakat. Ketika Martha mengalami kekerasan seksual, tidak ada Lembaga atau tokoh masyarakat yang mengambil tindakan. Polisi, aparat desa, bahkan gereja. Semua menjadi latar yang diam. Mereka bukan hanya tidak berfungsi, tetapi malah melanggengkan penderitaan dengan tidak hadir.
Sebaliknya, adat yang selama ini menjadi sandaran hidup masyarakat Timur juga diperlihatkan sebagai entitas yang membungkam. Norma dan ritus adat dipakai untuk mendisiplinkan tubuh perempuan, bukan untuk melindunginya. Martha tidak hanya menanggung trauma dari peristiwa yang ia alami, tetapi juga dari tekanan sosial yang memaksanya untuk “diam demi kehormatan keluarga”.
Sutradara Jeremias Nyangoen secara gambling menyatakan bahwa film ini memang diniatkan sebagai perlawanan terhadap kebungkaman tersebut. Dalam wawancara dengan Film Police Reviews, ia mengatakan:
“The film aims to bring awareness of sexual harassment and assault happening in the small communities from Indonesia.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa film ini tidak hanya ingin menjadi cermin realitas, tapi juga alat advokasi yang menyuarakan pengalaman perempuan dari komunitas yang selama ini luput dari perhatian publik dan media arus utama.
Dalam hal ini, film menjadi refleksi tajam tentang bagaimana kekuasaan ganda antara negara dan adat, namun justru bekerja sama dalam menciptakan kekosongan perlindungan. Perempuan, sekali lagi, dibiarkan sendirian menghadapi dunia yang kejam.
Secara visual, Women from Rote Island mengandalkan lanskap kering Rote dan ruang-ruang domestik yang sempit untuk menciptakan atmosfer isolasi. Warna-warna tanah, nuansa coklat, dan pencahayaan natural menciptakan kesan realis yang kuat. Film ini memberikan keheningan yang merayap, membekap, dan akhirnya meledak dalam keputusasaan.
Dalam konteks ini, keheningan bukan sekedar gaya sinematik, tapi strategi naratif. Pia Diamandis dari ArtsHelp menulis bahwa:
“Women from Rote Island underscore the urgent need to address sexual ciolence and empower women in Eastern Indonesia and beyond.”
Pernyataan tersebut memperkuat pilihan estetika Nyangoen untuk menampilkan penderitaan bukan melalui teriakan atau adegan sensasional, melainkan melalui sunyi yang mencekam. Ini adalah bentuk “testimoni dalam diam”, yang membuat suara korban justru terasa lebih dalam dan menggema.
Keputusan estetik ini memperkuat pesan film: bahwa penderitaan perempuan sering kali tidak terdengar, dan bahkan ketika diceritakan, tidak dipercaya. Bahasa tubuh para tokoh, terutama Orpa dan Martha, lebih bercerita daripada dialog. Kita bisa merasakan kekeringan emosi, rasa bersalah, amarah, dan luka yang membusuk dari cara mereka duduk, berjalan, atau memeluk.
Ini adalah sinema yang berani “tidak berbicara banyak”, tapi justru karenanya berbicara lebih dalam.
Women from Rote Island bergabung dalam barisan film Indonesia kontemporer yang berani berbicara tubuh perempuan dan relasi kekuasaan dalam masyarakat yang timpang. Film ini seperti Memories of My Body (Garin Nugroho, 2018) dan Yuni (Kamila Andini, 2021) sama-sama menggambarkan tubuh sebagai medan konflik sosial dan politik.
Dalam Memories of My Body, tubuh Rianto menjadi tempat negosiasi antara seni, gender, dan identitas dalam lanskap budaya Jawa yang konservatif. Sementara Yuni menampilkan tekanan sosial terhadap remaja perempuan yang ingin melanjutkan pendidikan, namun terus dilamar oleh pria yang lebih tua. Kedua film ini, meski berbeda konteks geografis, memiliki benang merah dengan Women from Rote Island – bahwa tubuh perempuan di Indonesia masih menjadi objek kontrol, baik oleh negara, adat, maupun keluarga.
Namun yang membedakan film ini adalah latarnya yang sangat jarang disentuh sinema Indonesia: pulau kecil, jauh dari pusat kekuasaan, dengan tradisi adat yang kuat. Rote, sebagai latar geografis dan simbolik, membawa nuansa baru dalam percakapan tentang ketimpangan.
Apa yang dialami Martha dalam film bukan fiksi belaka. Pada tahun 2018, Indonesia diguncang oleh berita kematian Adelina Lisao, seorang TKW asal Nusa Tenggara Timur yang disiksa oleh majikannya di Penang, Malaysia. Adelina ditemukan tidur di garasi dengan tubuh penuh luka. Ia meninggal tak lama setelah diselamatkan. Kasus ini mencerminkan apa yang dikisahkan dalam film: eksploitasi perempuan Timur oleh sistem migrasi yang tidak adil, dan pengabaian perlindungan negara.
Menurut Migrant CARE, mayoritas TKI perempuan berasal dari daerah-daerah Indonesia Timur – terutama NTT, NTB dan sebagian Sulawesi. Mereka rentan mengalami kekerasan karena minimnya Pendidikan, pelatihan, dan akses terhadap bantuan hukum. Komnas Perempuan dalam CATAHU 2023 juga mencatat peningkatan kekerasan berbasis gender terhadap perempuan migran.
Seperti Martha, banyak perempuan pulang dalam kondisi trauma, namun tidak mendapat ruang aman untuk pulih. Bahkan stigma terhadap korban seringkali lebih menyakitkan dari kekerasan itu sendiri. Film ini dengan jujur menunjukkan hal tersebut: betapa mudahnya masyarakat melabeli, menyalahkan, dan menjauhkan korban dari komunitasnya.
Pendekatan pascakolonial dan feminis transnasional penting untuk membaca film ini. Gayatri Chakravorty Spivak dalam esainya Can the Subaltern Speak? Mengajulkan pertanyaan tajam: “Dapatkah kaum pinggiran berbicara?” ia menyatakan bahwa dalam sistem kekuasaan global, suara perempuan Dunia Ketiga sering kali tidak terdengar atau diwakili secara salah oleh institusi Barat atau elit lokal.
Martha adalah figur subaltern dalam pengertian Spivak. Suaranya nyaris tak ada sepanjang film. Ia hadir, tetapi tak bersuara dan dibentuk oleh trauma, tetapi tidak diberi ruang untuk menjelaskan. Bahkan ketika ia menjadi korban untuk kedua kalinya, masyarakat tetap memintanya diam. Dalam diamnya, justru ia berbicara paling keras.
Chandra Talpade Mohanty, dalam Under Western Eyes, mengingatkan kita bahwa perempuan Dunia Ketiga seringkali direpresentasikan sebagai korban pasif oleh narasi feminisme Barat. Padahal, mereka memiliki konteks, sejarah, dan agensi yang kompleks. Film ini menghindari jebakan itu. Orpa dan Martha bukan perempuan lemah. Mereka adalah perempuan yang bertahan di tengah sistem yang terus melukai – sebuah bentuk kekuatan yang tidak keras, tapi dalam.
Lebih dari sekedar potret kekerasan, Women from Rote Island adalah film tentang warisan: bukan warisan materi, tapi warisan luka dan kekuatan. Orpa mewariskan kepada anak-anaknya bukan hanya nilai-nilai adat atau iman, tapi juga keberanian untuk bertahan. Martha, meski trauma, memilih tetap berada di rumah. Ini bukan karena ia lemah, tapi karena ia menolak pergi lagi – sebuah bentuk kepemilikan atas tubuh dan ruang.
Film ini adalah arsip memori kolektif perempuan Timur. Ia menyimpan amarah yang tertahan, air mata yag tak sempat tumpah, dan kekuatan yang lahir dari penderitaan. Dalam dunia yang penuh kebisingan dan kekerasan, film ini memilih untuk diam – dan dalam diam itu, kita mendengar lebih banyak dari yang bisa dikatakan.
Dalam sebuah wawancara bersama International-Feature.com, Jeremias Nyangoen menuturkan:
“Women from Rote Island underscore the urgent need to address sexual ciolence and empower women in Eastern Indonesia and beyond.”
Pernyataan ini bukan sekedar metafora biologis, melainkan deklarasi spiritual dan politis: bahwa kekuatan ibu – seperti Orpa dalam film ini – adalah bentuk tertinggi dari perlawanan. Kekuatan untuk bertahan, mencintai, dan melindungi dalam diam yang penuh makna.
Lewat film ini, Jeremias tidak hanya menghadirkan potret perempuan sebagai korban, tetapi juga sebagai pusat narasi, subjek sejarah, dan sumber kekuatan. Sebuah Langkah penting dalam sinema Indonesia yang terlalu lama berdiam atas luka-luka perempuan Timur.
Women from Rote Island adalah suara ibu. Dan suara ibu adalah suara perlawanan.
Kasih sayang orang tua sepanjang masa, begitu pepatah menjelaskan ungkapan sayang dan cinta orang tua kepada anaknya. Hal ini divisualkan Imam Syafi’i sebagai seorang Sutradara menjadi sebuah film dengan Judul Topo Pendem yang tayang di TVRI pada hari Kamis, 17 September lalu. Film ini di produksi pada tahun 2018 dan pernah mendapatkan beberapa penghargaan Nasional maupun Internasional.
Film ini bercerita tentang seorang Ayah yang frustasi karena memiliki anak laki-laki berkebutuhan khusus yang memilih untuk menyembuhkan anaknya melalui Topo Pendem. Padahal, seperti apapun anaknya yang berbeda dengan anak-anak lainnya tetaplah menjadi bagian dirinya yang ia sayangi.
Topo Pendem adalah sebuah ritual warisan Sunan Kalijaga dengan mengubur diri hidup-hidup di liang lahat untuk bertapa dengan tujuan untuk meningkatkan kesaktian supranatural. Dalam film ini ditujukan untuk menyembuhkan Ipul dari penyakit autisnya. Hal ini dilakukan langsung oleh Bandi yang merupakan Ayah Ipul.
Lokalitas Jawa yang dibentuk menjadi sebuah naratif, kemudian dikemas menjadi sebuah karya seni audio visual (film) pada Topo Pendem memang pantas diacungi jempol. Mengingat di era modern ini tidak banyak orang yang mengetahui lokalitas dan tradisi yang ada di daerah-daerah.
Hal ini juga menjadi poin positif kepada Imam Syafi’I sebagai seorang sineas muda yang berani mengeksplorasi nilai lokalitas dan tradisi yang ada di daerahnya. Untuk keaslian ide cerita tentu tidak dapat kita ragukan lagi. Selain itu, penggarapan bergaya natural seakan mampu membawa penonton hadir ke dalam rangkaian cerita yang dibangun Imam pada filmnya.
Menurut saya Imam boleh dikatakan orang yang mampu mengaplikasikan teori yang didapat pada jenjang perkuliahan, mengingat dia seorang Mahasiswa FFTV Institut Kesenian Jakarta ketika berjumpa beberapa waktu lalu di salah satu Festival Film Mahasiswa yang dilaksanakan di Depok.
Pemilihan aspect ratio memberikan pemberitahuan kepada penonton bahwa yang penonton lihat bukanlah hal yang nyata, melainkan sudah masuk ke wilayah khayalan Bandi ketika sedang melaksanakan prosesi Topo Pendem ketika berganti menjadi 4:3. Jika kita lihat pada film-film biasa, bisa saja seorang sutradara memilih menurunkan kontras atau saturasi untuk membedakan dunia nyata dan khayal pada adegan film, namun tidak pada Topo Pendem.
Namun sayangnya, adegan yang dimainkan Dodi sebagai Ipul menurut pandangan saya belum cukup realistis untuk seorang yang mengidap autis. Begitu juga dengan pemilihan Sound Track yang menurut saya juga mengganggu lokalitas yang sudah dibangun sejak awal adegan pada film ini.
Dibalik kegaduhan yang saya tulis disini mengenai hal-hal yang mengganggu saya secara pribadi, dan juga berdifat subjektif, Imam Syafi’i mampu mengenalkan lokalitas dan warisan budaya yang ada di daerahnya melalui film Topo Pendem. Mengingat juga fungsi film sebagai media informatif, edukatif, dan persuasif. Setidaknya, dua diantara tiga yang ada bisa terpenuhi.
Film merupakan media yang sangat
berpengaruh bagi masyarakat. Karena dengan menonton film, masyarakat bisa
mendapatkan pengaruh positif ataupun negatif dari apa yang dihadirkan dalam
film yang mereka lihat. Tergantung dari sudut pandang mana penonton melihat dan
menelaah apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Bisa jadi itu memberi
pengaruh positif ataupun negatif kepada mereka.
Aktivitas perfilman Indonesia saat
ini mengalami pasang naik yang sangat tinggi. Hal ini dapat kita lihat dari
mulai banyaknya produksi film tanah air saat sekarang ini, begitu juga dengan
masyarakat yang mengapresiasi film itu sendiri.
Dengan meningkatnya aktivitas produksi film yang diproduksi oleh beberapa Sutradara yang ada di Indonesia, ada beberapa penolakan dan pencekalan terhadap karya film itu sendiri. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apakah LSF (Lembaga Sensor Film) tidak melakukan tugasnya dengan baik? Begitu juga dengan pihak pemerintah, lembaga pendidikan film, para kritikus, mahasiswa, dan masyarakat yang menjadi target utama dari si pembuat film
Akhir – akhir ini, masyarakat
Indonesia dihebohkan dengan hadirnya salah satu film yang disutradarai oleh
Sutradara senior Indonesia, Bapak Garin Nugroho dengan judul “Kucumbu Tubuh
Indahku”.
Karya ini merupakan film yang
dirilis 18 April 2019 di Indonesia yang di Sutradarai oleh Garin Nugroho,
dengan produser Ifa Isfansyah dan Matthew Jordan. Film ini berhasil mendapatkan
nominasi di berbagai festival film Nasional maupun Internasional. Beberapa
diantaranya yaitu; Orizzonti Award for
Best Film(2018), Orizzonti Award for
Best Actress(2018), Orizzonti Award
for Best Actor(2018), Orizzonti Award
for Best Director(2018), Orizzonti
Award for Best Screenplay(2018), Special
Orizzonti Jury Prize(2018).
Film yang digarap oleh Garin Nugroho
ini menceritakan tentang kisah perjalanan hidup Juno, sejak kecil hingga dewasa
menjadi penari, di sebuah desa di Jawa yang terkenal sebagai desa Penari
Lengger Lanang, jenis tarian perempuan yang dibawakan penari laki-laki.
Kehidupan Juno kecil adalah
kehidupan peleburan tubuh maskulin dan feminism yang terbentuk alami oleh
kehidupan desa dan keluarganya, namun perjalanan hidupnya selanjutnya adalah
perjalanan kehidupan penuh trauma kekerasan tubuh. Trauma kekerasan politik
yang dialami ayahnya menjadikan Juno hidup sendiri di desa miskin menjadikan
dirinya menjadi ibu dan bapak bagi kehidupannya. Juno dalam kesendirian melihat
banyak kekerasan yang muncul di sekitarnya.
Film yang berlatar belakang
kehidupan di Tanah Jawa ini mendapat cekaman dari berbagai pihak, salah satunya
dari Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat. Beliau menyebutkan bahwa film
garapan garin Nugroho ini merupakan kampanye LGBT yang dihadirkan secara
terang-terangan.
Surat larangan tayang-pun dikirimkan
kepada LSF dan BPI oleh beliau. Namun timbul pertanyaan saya sebagai mahasiswa
film yang berasal dari Sumatera Barat. Apakah beliau sudah menonton film
tersebut? Dan masyarakat yang mencekam sudah menonton juga? Pertanyaan tersebut
saya hadirkan kepada beberapa masyarakat Minangkabau yang juga mencekal
penayangan film Kucumbu Tubuh Indahku yang di Sutradarai oleh Garin Nugroho,
namun jawaban yang saya dapatkan hanya kata “belum”.
Begitu juga dengan fenomena yang
sama, namun film yang berbeda, yaitu film Dua Garis Biru yang juga mendapat
perlakuan yang sama oleh Pemerintah dan beberapa pihak. Mereka menyebutkan
bahwa film Dua Garis Biru yang di Sutradarai oleh Ginatri S.Noer.
Film yang mengisahkan tentang dua
orang remaja SMA bernama Dara dan Bima yang berpacaran sampai melampaui batas.
Film ini bisa menjadi cermin bagi kehidupan remaja dan anak muda di zaman
sekarang yang tak lagi punya batasan.
Di pertengahan cerita, dunia Bima
dan Dara tak lagi berwarna, terlebih keduanya harus menjadi orang tua. Film ini
membawa pesan tentang hubungan yang salah bisa membawa banyak masalah. Konflik
demi konflik digambarkan gambling penuh pesan satir dan sentilan. Utamanya
tentang pentingnya edukasi seksual kepada generasi muda yang sering dianggap
tabu. Padahal topik ini adalah hal penting terutama penting dibicarakan orang
tua kepada anak-anak.
Dari dua contoh di atas kita dapat
menganggap bahwa pemerintah terkhususnya Sumatera Barat masih memandang film
hanya dari satu sudut pandang saja dan terlalu melihat lurus dengan jalan
cerita yang dihadirkan di dalam film. Dari film Kucumbu Tubuh Indahku kita bisa
melihat dan mempelajari budaya yang ada sebelum zaman saat sekarang ini, kita
juga bisa menjadikan film tersebut sebagai seks edukasi yang bisa diajarkan
kepada masyarakat, terkhususnya anak-anak yang memasuki masa pubertas.
Begitu juga dengan film dua garis
biru, kita juga bisa melihat dari sudut pandang yang lain tentang apa yang
dilihat dan dipaparkan dalam film tersebut. Kita bisa melihat dari segi
edukasi, bukan dari segi negatif. Karena setiap hal tentu mempunya sisi negatif
dan positif, tergantung darimana kita melihat dan mendalami permasalahan itu
sendiri.
Dalam film Dua Garis Biru kita bisa
melihat akibat dari hubungan asmara diluar batas yang dilakukan oleh sepasang
remaja SMA atau sederajat. Dari hal ini kita bisa memberikan edukasi mengenai
seks kepada anak-anak dibawah umur maupun remaja saat sekarang ini. Mengingat
banyaknya kasus-kasus perniakahan dibawah umur, pelecehan seksual, dan lain
sebagainya sangat banyak terjadi. Hal ini juga bisa menjadi antisipasi yang
diberikan pemerintah dan orang tua terkhususnya untuk mendidik dan mengajarkan
anaknya tentang seks edukasi.
Dari dua film yang dicontohkan,
masyarakat seharusnya bisa mengambil sisi positif yang ada dibalik film yang
dibuat dan dihadirkan oleh sineas-sineas Tanah Air. Kenapa film tersebut
mendapat banyak penghargaan di Luar Indonesia, namun mendapat cekaman di Negara
asal film tersebut diproduksi. Ini juga menjadi catatan penting untuk Badan
Pengurus Film yang ada di Indonesia.
Film saat ini bukan film yang
menjual pemandangan indah dari tubuh artisnya sendiri yang sempat kita lihat
pada film Indonesia sebelum ini, namun film yang penuh dengan esensi dan
edukasi yang dihadirkan oleh seniman-seniman audio visual Indonesia. Dan ini
juga menjadi PR untuk lembaga pendidikan yang menyediakan program studi
Televisi terkhususnya Film.
Kritikus dan pemerhati film juga mempunyai peran dalam kemajuan film Indonesia seharusnya, bukan hanya diam dan menjadi penonton yang serba tahu apa yang ada dalam fikiran orang-orang di belakang layar dalam penggarapan sebuah film, terkhususnya Sutradara. Tentu ada tanda dan makna yang akan dihadirkan oleh Sutardara itu sendiri.
Dari materi dan pembahasan yang
dihadirkan di atas, dapat disimpulkan bahwa aktifitas perfilman Indonesia saat
ini mengalami peningkatan dan memberikan berbagai edukasi kepada masyarakatnya,
namun beberapa di antaranya belum mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah
maupun masyarakat penikmat film itu sendiri. Adapun saran yang dapat diberikan
yaitu;
Sebelum mencekal sebuah film untuk ditayangkan, sebaikan pemerintah menonton terlebih dahulu film yang akan ditayangkan dan mendiskusikannya dengan beberapa pihak, terkhususnya Sutradara dan badan perfilman yang ada di Indonesia.
Setelah mendiskusikan film tersebut, pemerintah juga sebaiknya memberikan demo atau arahan mengenai pesan-pesan yang ada dalam film tersebut, guna membantu distribusi dan pemahaman masyarakat terhadap film.
Kritikus-kritikus film Indonesia juga sebaiknya memberikan perannya terhadap film yang ada di Indonesia, tidak hanya memberikan poin negatif yang ada pada perfilman Indonesia.
Lembaga pendidikan, khususnya Televisi dan Film memberikan arahan dan sudut pandang pengajaran terhadap materi film yang akan digarap oleh mahasiswa.
Mahasiswa Televisi dan Film di Indonesia sebaiknya lebih aktif dalam menganalisis sebuah film dan isu yang ada dalam film yang berguna untuk masyarakat yang akan menjadi penonton dan penikmat film.
Masyarakat sebaiknya mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda dari film yang ditonton guna memberikan edukasi kepada penonton it
Sejarah film tidak bisa lepas dari sejarah fotografi. Dan sejarah fotograf tidak bisa lepas dari peralatan pendukungnya, seperti kamera. Kamera pertama di dunia ditemukan oleh seorang Ilmuwan Muslim, Ibnu Haitham. Fisikawan ini pertama kali menemukan Kamera Obscura dengan dasar kajian ilmu optik menggunakan bantuan energi cahaya matahari. Mengembangkan ide kamera sederhana tersebut, mulai ditemukan kamera-kamera yang lebih praktis, bahka inovasinya demikian pesat berkembang sehingga kamera mulai bisa digunakan untuk merekam gambar gerak. Ide dasar sebuah film sendiri, terfikir secara tidak sengaja. Pada tahun 1878 ketika beberapa orang pria Amerika berkumpul dan dari perbincangan ringan menimbulkan sebuah pertanyaan : “Apakah keempat kaki kuda berada pada posisi melayang pada saat bersamaan ketika kuda berlari?” Pertanyaan itu terjawab ketika Eadweard Muybridge membuat 16 frame gambar kuda yang sedang berlari. Dari 16 frame gambar kuda yang sedang berlari tersebut, dibuat rangkaian gerakan secara urut sehingga gambar kuda terkesan sedang berlari. Dan terbuktilah bahwa ada satu momen dimana kaki kuda tidak menyentuh tanah ketika kuda tengah berlari kencang Konsepnya hampir sama dengan konsep film kartun. Gambar gerak kuda tersebut menjadi gambar gerak pertama di dunia. Dimana pada masa itu belum diciptakan kamera yang bisa merekam gerakan dinamis. Setelah penemuan gambar bergerak Muybridge pertama kalinya, inovasi kamera mulai berkembang ketika Thomas Alfa Edison mengembangkan fungsi kamera gambar biasa menjadi kamera yang mampu merekam gambar gerak pada tahun 1888, sehingga kamera mulai bisa merekam objek yang bergerak dinamis. Maka dimulailah era baru sinematografi yang ditandai dengan diciptakannya sejenis film dokumenter singkat oleh Lumière Bersaudara. Film yang diakui sebagai sinema pertama di dunia tersebut diputar di Boulevard des Capucines, Paris, Prancis dengan judul Workers Leaving the Lumière’s Factory pada tanggal 28 Desember 1895 yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya sinematografi. Film inaudibel yang hanya berdurasi beberapa detik itu menggambarkan bagaimana pekerja pabrik meninggalkan tempat kerja mereka di saat waktu pulang. Pada awal lahirnya film, memang tampak belum ada tujuan dan alur cerita yang jelas. Namun ketika ide pembuatan film mulai tersentuh oleh ranah industri, mulailah film dibuat lebih terkonsep, memiliki alur dan cerita yang jelas. Meskipun pada era baru dunia film, gambarnya masih tidak berwarna alias hitam-putih, dan belum didukung oleh efek audio. Ketika itu, saat orang-orang tengah menyaksikan pemutaran sebuah film, akan ada pemain musik yang mengiringi secara langsung gambar gerak yag ditampilkan di layar sebagai efek suara.
Film merupakan media audio visual yang sangat populer pada saat sekarang ini. Apalagi di zaman millenials sekarang. Melalui film, seorang sutradara bisa menyampaikan apa saja yang ada dalam pikiran dan perasaannya. Sebelum kita lebih jauh membahas hal tad, kita kembali kepada topik “Apa itu film”? Teman-teman mungkin sering mendengar kata film dan juga sering menontonnya. Mari kita samakan dulu definisi dari film bersama. Film merupakan serangkaian gambar diam, yang ketika ditampilkan pada layar akan menciptakan ilusi gambar bergerak karena efek phi. Ilusi optik ini memaksa penonton untuk melihat gerakan berkelanjutan antar obyek yang berbeda secara cepat dan berturut-turut.
Who what am I? My answer: I am the sum total of everything that went before me, of all I have been seen done, of everything done-to-me. I am everyone everything whose being-in-the-world affected was affected by mine. I am anything that happens after I've gone which would not have happened if I had not come. (Salman Rushdie, Midnight's Children)