Dalam lanskap perfilman Indonesia yang kerap tersentralisasi di Pulau Jawa, Women from Rote Island muncul sebagai angin segar sekaligus napas pilu yang mengingatkan kita pada luka-luka lama yang belum sembuh. Film ini tidak hanya berbicara tentang duka sebuah keluarga yang kehilangan kepala rumah tangga, tetapi juga menghadirkan potret luka struktural yang menimpa perempuan dari wilayah pinggiran Indonesia: Nusa Tenggara Timur.
Dengan pendekatan realisme, Women from Rote Island karya Jeremias Nyangoen menjadi saksi bisu dari bagaimana tubuh perempuan menjadi medan tempur berbagai bentuk kekerasan: dari kolonialisme ekonomi, patriarki, hingga pengabaian negara. Tokoh utama. Orpa (Merlinda Adoe), adalah pintu masuk kita ke dalam tragedi ini.

Cerita dimulai dengan duka. Abram, suami Orpa, meninggal dunia. Tapi Orpa menunda pemakamannya selama delapan hari, dengan harapan Martha yang merupakan anak sulungnya yang bekerja sebagai TKI di Malaysia bisa pulang dan melihat wajah sang ayah untuk terakhir kali. Adegan ini secara simbolik memotret bagaimana duka tidak pernah menjadi urusan individu, tetapi selalu berkelindan dengan struktur sosial, waktu, dan trauma keluarga.
Orpa digambarkan sebagai perempuan kuat namun terkoyak. Ia tidak hanya berperan sebagai ibu, tapi juga penjaga kehormatan keluarga, pemegang nilai adat, dan sekaligus tameng dari kehancuran. Dalam konteks budaya Rote dan banyak masyarakat Timur Indonesia, perempuan seperti Orpa seringkali memikul beban berlapis: mereka harus Tangguh, sekaligus diam.
Keputusan Orpa untuk menunda penguburan bukan hanya tindakan spiritual atau kultural, melainkan bentuk kecil dari perlawanan. Ia menentang ritus dan desakan sosial demi memberi ruang kepada anaknya. Ruang yang seharusnya dimiliki perempuan tapi kerap direbut oleh sistem adat dan norma maskulin.

Kembalinya Martha dari Malaysia menjadi titik balik dalam narasi film ini. Tubuhnya yang penuh luka dan ekspresinya yang kosong menjadi metafora paling gambling tentang kekerasan yang menimpa para perempuan migran Indonesia. Ia bukan sekedar korban pelecehan seksual oleh majikannya, melainkan korban dari sistem migrasi tenaga kerja yang timpang.
Dalam banyak kasus nyata, perempuan dari Indonesia Timur bekerja sebagai buruh migran karena terdesak keadaan ekonomi dan minimnya akses terhadap Pendidikan. Negara membuka jalan legalisasi pengiriman TKI tanpa memberikan perlindungan maksimal. Mereka dihisap oleh sistem ekonomi global yang masih berwatak colonial, di mana “tenaga murah” dari dunia ketiga menjadi tulang punggung industri perkebunan, rumah tangga, dan jasa di negara-negara tetangga.
Majikan Martha yang disebut “Datuk”, bukan hanya individu predator, tetapi simbol kekuasaan partriarki transnasional. Ia merepresentasikan struktur kapitalisme global yang mengeksploitasi tubuh perempuan sebagai objek kerja sekaligus seks. Yang lebih menyakitkan, setelah kembali ke kampung halaman pun, Martha tetap tidak aman. Ia menjadi korban kekerasan seksual kedua kalinya, kini dari lingkungan yang mestinya melindunginya. Ini menegaskan bahwa perempuan miskin dari pinggiran tidak pernah benar-benar memiliki tempat aman, baik di tanah asing maupun di tanah sendiri.
Dari sudut pandang teori feminis pascakolonial, Women from Rote Island adalah karya penting karena memberikan panggung bagi suara perempuan dari wilayah yang selama ini dipinggirkan dalam wacana nasional. Perempuan Timur, terutama Rote, Sumba, atau Flores sering kali hanya muncul sebagai stereotip: eksotis, pekerja keras, atau korban. Film ini membalikkan narasi tersebut dengan memberikan agensi kepada tokohnya, terutama Orpa dan Martha.
Kamera tidak memotret mereka sebagai objek penderita, melainkan sebagai subjek yang mengalami, berjuang, dan menyimpan trauma. Estetika film yang hening, penuh lanskap kering dan rumah-rumah sederhana, memberi ruang bagi penonton untuk menyimak kesunyian yang memekakkan – sunyi dari pengakuan, sunyi dari keadilan, dan sunyi dari negara.

Film ini juga memposisikan dirinya sebagai ruang kesaksian (testimonial space). Ia tidak menyajikan solusi cepat atau narasi pahlawan, tetapi menentang kita untuk melihat realitas yang selama ini dihindari media arus utama: bahwa kekerasan terhadap perempuan bukanlah insiden, melainkan sistem.
Salah satu kekuatan ini terletak pada kemampuannya memperlihatkan absennya negara dan diamnya adat sebagai dua kutub kekuasaan yang mestinya melindungi masyarakat. Ketika Martha mengalami kekerasan seksual, tidak ada Lembaga atau tokoh masyarakat yang mengambil tindakan. Polisi, aparat desa, bahkan gereja. Semua menjadi latar yang diam. Mereka bukan hanya tidak berfungsi, tetapi malah melanggengkan penderitaan dengan tidak hadir.
Sebaliknya, adat yang selama ini menjadi sandaran hidup masyarakat Timur juga diperlihatkan sebagai entitas yang membungkam. Norma dan ritus adat dipakai untuk mendisiplinkan tubuh perempuan, bukan untuk melindunginya. Martha tidak hanya menanggung trauma dari peristiwa yang ia alami, tetapi juga dari tekanan sosial yang memaksanya untuk “diam demi kehormatan keluarga”.
Sutradara Jeremias Nyangoen secara gambling menyatakan bahwa film ini memang diniatkan sebagai perlawanan terhadap kebungkaman tersebut. Dalam wawancara dengan Film Police Reviews, ia mengatakan:
“The film aims to bring awareness of sexual harassment and assault happening in the small communities from Indonesia.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa film ini tidak hanya ingin menjadi cermin realitas, tapi juga alat advokasi yang menyuarakan pengalaman perempuan dari komunitas yang selama ini luput dari perhatian publik dan media arus utama.
Dalam hal ini, film menjadi refleksi tajam tentang bagaimana kekuasaan ganda antara negara dan adat, namun justru bekerja sama dalam menciptakan kekosongan perlindungan. Perempuan, sekali lagi, dibiarkan sendirian menghadapi dunia yang kejam.
Secara visual, Women from Rote Island mengandalkan lanskap kering Rote dan ruang-ruang domestik yang sempit untuk menciptakan atmosfer isolasi. Warna-warna tanah, nuansa coklat, dan pencahayaan natural menciptakan kesan realis yang kuat. Film ini memberikan keheningan yang merayap, membekap, dan akhirnya meledak dalam keputusasaan.
Dalam konteks ini, keheningan bukan sekedar gaya sinematik, tapi strategi naratif. Pia Diamandis dari ArtsHelp menulis bahwa:
“Women from Rote Island underscore the urgent need to address sexual ciolence and empower women in Eastern Indonesia and beyond.”
Pernyataan tersebut memperkuat pilihan estetika Nyangoen untuk menampilkan penderitaan bukan melalui teriakan atau adegan sensasional, melainkan melalui sunyi yang mencekam. Ini adalah bentuk “testimoni dalam diam”, yang membuat suara korban justru terasa lebih dalam dan menggema.
Keputusan estetik ini memperkuat pesan film: bahwa penderitaan perempuan sering kali tidak terdengar, dan bahkan ketika diceritakan, tidak dipercaya. Bahasa tubuh para tokoh, terutama Orpa dan Martha, lebih bercerita daripada dialog. Kita bisa merasakan kekeringan emosi, rasa bersalah, amarah, dan luka yang membusuk dari cara mereka duduk, berjalan, atau memeluk.
Ini adalah sinema yang berani “tidak berbicara banyak”, tapi justru karenanya berbicara lebih dalam.
Women from Rote Island bergabung dalam barisan film Indonesia kontemporer yang berani berbicara tubuh perempuan dan relasi kekuasaan dalam masyarakat yang timpang. Film ini seperti Memories of My Body (Garin Nugroho, 2018) dan Yuni (Kamila Andini, 2021) sama-sama menggambarkan tubuh sebagai medan konflik sosial dan politik.
Dalam Memories of My Body, tubuh Rianto menjadi tempat negosiasi antara seni, gender, dan identitas dalam lanskap budaya Jawa yang konservatif. Sementara Yuni menampilkan tekanan sosial terhadap remaja perempuan yang ingin melanjutkan pendidikan, namun terus dilamar oleh pria yang lebih tua. Kedua film ini, meski berbeda konteks geografis, memiliki benang merah dengan Women from Rote Island – bahwa tubuh perempuan di Indonesia masih menjadi objek kontrol, baik oleh negara, adat, maupun keluarga.
Namun yang membedakan film ini adalah latarnya yang sangat jarang disentuh sinema Indonesia: pulau kecil, jauh dari pusat kekuasaan, dengan tradisi adat yang kuat. Rote, sebagai latar geografis dan simbolik, membawa nuansa baru dalam percakapan tentang ketimpangan.
Apa yang dialami Martha dalam film bukan fiksi belaka. Pada tahun 2018, Indonesia diguncang oleh berita kematian Adelina Lisao, seorang TKW asal Nusa Tenggara Timur yang disiksa oleh majikannya di Penang, Malaysia. Adelina ditemukan tidur di garasi dengan tubuh penuh luka. Ia meninggal tak lama setelah diselamatkan. Kasus ini mencerminkan apa yang dikisahkan dalam film: eksploitasi perempuan Timur oleh sistem migrasi yang tidak adil, dan pengabaian perlindungan negara.

Menurut Migrant CARE, mayoritas TKI perempuan berasal dari daerah-daerah Indonesia Timur – terutama NTT, NTB dan sebagian Sulawesi. Mereka rentan mengalami kekerasan karena minimnya Pendidikan, pelatihan, dan akses terhadap bantuan hukum. Komnas Perempuan dalam CATAHU 2023 juga mencatat peningkatan kekerasan berbasis gender terhadap perempuan migran.
Seperti Martha, banyak perempuan pulang dalam kondisi trauma, namun tidak mendapat ruang aman untuk pulih. Bahkan stigma terhadap korban seringkali lebih menyakitkan dari kekerasan itu sendiri. Film ini dengan jujur menunjukkan hal tersebut: betapa mudahnya masyarakat melabeli, menyalahkan, dan menjauhkan korban dari komunitasnya.
Pendekatan pascakolonial dan feminis transnasional penting untuk membaca film ini. Gayatri Chakravorty Spivak dalam esainya Can the Subaltern Speak? Mengajulkan pertanyaan tajam: “Dapatkah kaum pinggiran berbicara?” ia menyatakan bahwa dalam sistem kekuasaan global, suara perempuan Dunia Ketiga sering kali tidak terdengar atau diwakili secara salah oleh institusi Barat atau elit lokal.
Martha adalah figur subaltern dalam pengertian Spivak. Suaranya nyaris tak ada sepanjang film. Ia hadir, tetapi tak bersuara dan dibentuk oleh trauma, tetapi tidak diberi ruang untuk menjelaskan. Bahkan ketika ia menjadi korban untuk kedua kalinya, masyarakat tetap memintanya diam. Dalam diamnya, justru ia berbicara paling keras.
Chandra Talpade Mohanty, dalam Under Western Eyes, mengingatkan kita bahwa perempuan Dunia Ketiga seringkali direpresentasikan sebagai korban pasif oleh narasi feminisme Barat. Padahal, mereka memiliki konteks, sejarah, dan agensi yang kompleks. Film ini menghindari jebakan itu. Orpa dan Martha bukan perempuan lemah. Mereka adalah perempuan yang bertahan di tengah sistem yang terus melukai – sebuah bentuk kekuatan yang tidak keras, tapi dalam.
Lebih dari sekedar potret kekerasan, Women from Rote Island adalah film tentang warisan: bukan warisan materi, tapi warisan luka dan kekuatan. Orpa mewariskan kepada anak-anaknya bukan hanya nilai-nilai adat atau iman, tapi juga keberanian untuk bertahan. Martha, meski trauma, memilih tetap berada di rumah. Ini bukan karena ia lemah, tapi karena ia menolak pergi lagi – sebuah bentuk kepemilikan atas tubuh dan ruang.
Film ini adalah arsip memori kolektif perempuan Timur. Ia menyimpan amarah yang tertahan, air mata yag tak sempat tumpah, dan kekuatan yang lahir dari penderitaan. Dalam dunia yang penuh kebisingan dan kekerasan, film ini memilih untuk diam – dan dalam diam itu, kita mendengar lebih banyak dari yang bisa dikatakan.
Dalam sebuah wawancara bersama International-Feature.com, Jeremias Nyangoen menuturkan:
“Women from Rote Island underscore the urgent need to address sexual ciolence and empower women in Eastern Indonesia and beyond.”
Pernyataan ini bukan sekedar metafora biologis, melainkan deklarasi spiritual dan politis: bahwa kekuatan ibu – seperti Orpa dalam film ini – adalah bentuk tertinggi dari perlawanan. Kekuatan untuk bertahan, mencintai, dan melindungi dalam diam yang penuh makna.
Lewat film ini, Jeremias tidak hanya menghadirkan potret perempuan sebagai korban, tetapi juga sebagai pusat narasi, subjek sejarah, dan sumber kekuatan. Sebuah Langkah penting dalam sinema Indonesia yang terlalu lama berdiam atas luka-luka perempuan Timur.
Women from Rote Island adalah suara ibu. Dan suara ibu adalah suara perlawanan.








