Topo Pendem dan Nilai-Nilai di Dalamnya

Kasih sayang orang tua sepanjang masa, begitu pepatah menjelaskan ungkapan sayang dan cinta  orang tua kepada anaknya. Hal ini divisualkan Imam Syafi’i sebagai seorang Sutradara menjadi sebuah film dengan Judul Topo Pendem yang tayang di TVRI pada hari Kamis, 17 September lalu. Film ini di produksi pada tahun 2018 dan pernah mendapatkan beberapa penghargaan Nasional maupun Internasional.

Film ini bercerita tentang seorang Ayah yang frustasi karena memiliki anak laki-laki berkebutuhan khusus yang memilih untuk menyembuhkan anaknya melalui Topo Pendem. Padahal, seperti apapun anaknya yang berbeda dengan anak-anak lainnya tetaplah menjadi bagian dirinya yang ia sayangi.

Topo Pendem adalah sebuah ritual warisan Sunan Kalijaga dengan mengubur diri hidup-hidup di liang lahat untuk bertapa dengan tujuan untuk meningkatkan kesaktian supranatural. Dalam film ini ditujukan untuk menyembuhkan Ipul dari penyakit autisnya. Hal ini dilakukan langsung oleh Bandi yang merupakan Ayah Ipul.

Lokalitas Jawa yang dibentuk menjadi sebuah naratif, kemudian dikemas menjadi sebuah karya seni audio visual (film) pada Topo Pendem memang pantas diacungi jempol. Mengingat di era modern ini tidak banyak orang yang mengetahui lokalitas dan tradisi yang ada di daerah-daerah.

Hal ini juga menjadi poin positif kepada Imam Syafi’I sebagai seorang sineas muda yang berani mengeksplorasi nilai lokalitas dan tradisi yang ada di daerahnya. Untuk keaslian ide cerita tentu tidak dapat kita ragukan lagi. Selain itu, penggarapan bergaya natural seakan mampu membawa penonton hadir ke dalam rangkaian cerita yang dibangun Imam pada filmnya.

Menurut saya Imam boleh dikatakan orang yang mampu mengaplikasikan teori yang didapat pada jenjang perkuliahan, mengingat dia seorang Mahasiswa FFTV Institut Kesenian Jakarta ketika berjumpa beberapa waktu lalu di salah satu Festival Film Mahasiswa yang dilaksanakan di Depok.

Pemilihan aspect ratio memberikan pemberitahuan kepada penonton bahwa yang penonton lihat bukanlah hal yang nyata, melainkan sudah masuk ke wilayah khayalan Bandi ketika sedang melaksanakan prosesi Topo Pendem ketika berganti menjadi 4:3. Jika kita lihat pada film-film biasa, bisa saja seorang sutradara memilih menurunkan kontras atau saturasi untuk membedakan dunia nyata dan khayal pada adegan film, namun tidak pada Topo Pendem.

Namun sayangnya, adegan yang dimainkan Dodi sebagai Ipul menurut pandangan saya belum cukup realistis untuk seorang yang mengidap autis. Begitu juga dengan pemilihan Sound Track yang menurut saya juga mengganggu lokalitas yang sudah dibangun sejak awal adegan pada film ini.

Dibalik kegaduhan yang saya tulis disini mengenai hal-hal yang mengganggu saya secara pribadi, dan juga berdifat subjektif, Imam Syafi’i mampu mengenalkan lokalitas dan warisan budaya yang ada di daerahnya melalui film Topo Pendem. Mengingat juga fungsi film sebagai media informatif, edukatif, dan persuasif. Setidaknya, dua diantara tiga yang ada bisa terpenuhi.

“Lebih baik kekurangan daripada kehilangan”

@wahyudha17

Tinggalkan komentar