Feminis Manis Bernama Yuni

Apa yang kita bayangkan ketika bertemu seorang perempuan berusia remaja yang masih duduk di bangku SMA yang lingkungannya bukan berlatar di kota besar dengan hiruk pikuk kebisingan dan percampuran budaya di dalamnya? Ya, sebagian kita akan beranggapan dan berpendapat bahwa remaja perempuan tersebut akan memiliki gaya hidup yang kulot, pola pikir yang belum memiliki kebebasan seperti yang kita temui di kota-kota besar pada saat sekarang ini.

Film Yuni menyajikan sebagian kecil dari ketidak setaraan gender yang diakibatkan dari budaya patriarki yang masih sering kita temui di beberapa daerah di Indonesia. Sutradara Kamila Andini mengajak penonton melihat dan merefleksikan diri tentang bagaimana pahitnya menjadi seorang perempuan di beberapa daerah di Indonesia lewat Film Yuni.

Yuni, (Arawinda Kirana) yang tengah menempuh pendidikan SMA dan akan lulus, berniat melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Yuni merupakan siswi yang pintar, sehingga kepintarannya dilirik oleh Ibu Lies (Marissa Anita). Ibu Lies berniat membantu Yuni untuk melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan dengan jalur beasiswa.

Yuni memiliki daya tarik khusus yang tentu saja dilihat dari kaca mata pria. Hal ini terbukti dari cerita pada film bahwa Yuni dilamar oleh dua orang pria. Mitosnya, jika menolak lamaran tersebut jodohnya akan semakin jauh. Sehingga Yuni menjadi dilema antara melanjutkan pendidikan, atau malah memilih untuk menikah di usia yang masih belia. Apalagi Yuni melihat sahabatnya Suci (Asmara Abigail) yang memiliki traumatic terhadap pernikahan. Suci merupakan janda yang menjadi korban KDRT sehingga memilih untuk berpisah dengan suaminya. Hal inilah yang membuat Yuni berpikir tentang pernikahan.

Potongan Film Yuni

Dalam film Yuni, Kamila Andini yang merupakan Sutradara pada film ini membahas isu mengenai perempuan. Dalam penceritaan, Yuni dilemma antara dua pilihan, yaitu antara melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, atau menerima lamaran dari pria yang melamarnya. Yuni mempertanyakan pertanyaannya kepada orang tuanya, namun Yuni tidak mendapatkan jawaban dan solusi. Sehingga Yuni seakan dipaksa untuk memilih jalannya sendiri. Sementara dari orang-orang sekitarnya, Yuni diisyaratkan untuk segera menikah. Hal ini sepertinya mengikat Yuni dalam memilih jalan hidupnya sendiri.

Jika kita berbicara mengenai film, secara tidak langsung kita mengaitkannya dengan cultur karena film itu sendiri merupakan sebuah produk yang merepresentasikan sebuah kebudayaan yang telah dikonstruksi. Cultural studies dapat dipahami sebagai studi kebudayaan yang merupakan pemaknaan representasi. Representasi dan makna kebudayaan itu sendiri melekat pada bunyi, prasasti, objek, citra, program televisi, majalah, dan tentu saja film.

Pada bagian awal film, diceritakan bahwa sekolah akan melaksanakan tes keperawanan. Hal ini terkesan bahwa perawan atau tidaknya seorang perempuan bukan lagi menjadi ranah privasi seorang perempuan. Sepertinya film ini berniat memberikan refleksi kepada beberapa pihak tentang ranah privasi mana yang bisa diketahui dan yang tidak. Yang terpenting, pendidikan sex seharusnya penting untuk diketahui manusia di usia remaja.

Karakter Yuni dikonstruksi dengan matang oleh seorang Kamila Andini, hal ini terlihat dari warna yang dikenakan ketika ada Yuni di dalam frame. Ungu, warna yang menggambarkan seorang janda. Hal ini pun sepertinya sudah menjadi turun temurun sehingga timbul pengklasifikasian bahwa yang gemar mengenakan benda ataupun barang berwarna ungu merupakan pecinta janda, jika seorang laki-laki. Atau merupakan seorang janda, jika perempuan.

Pertemuan Yuni dengan Suci membuat Yuni merasa bebas. Banyak hal yang kemudian Yuni lakukan dengan berani tanpa memikirkan banyak hal yang mengganggu pikirannya sebelumnya. Hingga pada akhirnya, Yuni mendapatkan jawaban-jawaban dari Suci tentang asam-manis tentang pernikahan berdasarkan pengalaman Suci.

Kembali kepada cultur, salah satu unsur yang sangat jelas tentang kebudayaan dapat kita dengar melalui suara, tepatnya dialog. Bahasa Jawa Serang menjadi pilihan Kamila Andini. Hal ini sepertinya sengaja dieksplorasi Kamila Andini agar tetap menjaga lokalitas Indonesia yang dibangun pada film ini. Arawinda Kirana juga dibilang sukses dalam menggunakan Bahasa ini.

Debut Arawinda Kirana dalam melakoni karakter Yuni dapat diaacungi jempol. Hal ini terlihat dengan suksesnya Arawinda meraih Piala Citra untuk kategori pemeran utama perempuan terbaik. Kemudian, arawinda juga berhasil meraih penghargaan Snow Leopard untuk aktris terbaik di Asian World Film Festival 2021. Selain itu, juga ada beberapa penghargaan lainnya seperti aktris utama pilihan Tempo (2021), Aktris Utama Terpilih Piala Maya (2022), dan juga Best Actress pada Red Sea International Film Festival.

Selain pada bahasa yang digunakan, unsur kebudayaan pada film ini juga terlihat pada beberapa adegan yang memperlihatkan bagaimana Yuni melakukan latihan pencak silat. Sama-sama kita ketahui bahwa pencak silat juga merupakan sebuah kebudayaan.

Kebudayaan sepertinya menjadi nilai tersendiri jika dikenakan pada sebuah film yang akan dikonsumsi oleh public dari berbagai kalangan. Pernyataan ini dapat kita lihat juga dari beberapa film Indonesia yang sukses dengan cerita atau memiliki latar belakang kebudayaan.

Secara garis besar, film Yuni digarap dengan baik oleh Kamila Andini beserta tim. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai penghargaan yang telah diraih oleh film ini seperti salah satunya meraih Platform Prize pada Toronto International Film Festival.

Tinggalkan komentar