Makna Yang Tidak Tergambarkan

Sumber : https://hai.grid.id/read/071713020/dinilai-menjerumuskan-muncul-petisi-untuk-boikot-film-dua-garis-biru

Film merupakan media yang sangat berpengaruh bagi masyarakat. Karena dengan menonton film, masyarakat bisa mendapatkan pengaruh positif ataupun negatif dari apa yang dihadirkan dalam film yang mereka lihat. Tergantung dari sudut pandang mana penonton melihat dan menelaah apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Bisa jadi itu memberi pengaruh positif ataupun negatif kepada mereka.

Aktivitas perfilman Indonesia saat ini mengalami pasang naik yang sangat tinggi. Hal ini dapat kita lihat dari mulai banyaknya produksi film tanah air saat sekarang ini, begitu juga dengan masyarakat yang mengapresiasi film itu sendiri.

Dengan meningkatnya aktivitas produksi film yang diproduksi oleh beberapa Sutradara yang ada di Indonesia, ada beberapa penolakan dan pencekalan terhadap karya film itu sendiri. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apakah LSF (Lembaga Sensor Film) tidak melakukan tugasnya dengan baik? Begitu juga dengan pihak pemerintah, lembaga pendidikan film, para kritikus, mahasiswa, dan masyarakat yang menjadi target utama dari si pembuat film

Akhir – akhir ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan hadirnya salah satu film yang disutradarai oleh Sutradara senior Indonesia, Bapak Garin Nugroho dengan judul “Kucumbu Tubuh Indahku”.

Karya ini merupakan film yang dirilis 18 April 2019 di Indonesia yang di Sutradarai oleh Garin Nugroho, dengan produser Ifa Isfansyah dan Matthew Jordan. Film ini berhasil mendapatkan nominasi di berbagai festival film Nasional maupun Internasional. Beberapa diantaranya yaitu; Orizzonti Award for Best Film(2018), Orizzonti Award for Best Actress(2018), Orizzonti Award for Best Actor(2018), Orizzonti Award for Best Director(2018), Orizzonti Award for Best Screenplay(2018), Special Orizzonti Jury Prize(2018).

Film yang digarap oleh Garin Nugroho ini menceritakan tentang kisah perjalanan hidup Juno, sejak kecil hingga dewasa menjadi penari, di sebuah desa di Jawa yang terkenal sebagai desa Penari Lengger Lanang, jenis tarian perempuan yang dibawakan penari laki-laki.

Kehidupan Juno kecil adalah kehidupan peleburan tubuh maskulin dan feminism yang terbentuk alami oleh kehidupan desa dan keluarganya, namun perjalanan hidupnya selanjutnya adalah perjalanan kehidupan penuh trauma kekerasan tubuh. Trauma kekerasan politik yang dialami ayahnya menjadikan Juno hidup sendiri di desa miskin menjadikan dirinya menjadi ibu dan bapak bagi kehidupannya. Juno dalam kesendirian melihat banyak kekerasan yang muncul di sekitarnya.

Film yang berlatar belakang kehidupan di Tanah Jawa ini mendapat cekaman dari berbagai pihak, salah satunya dari Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat. Beliau menyebutkan bahwa film garapan garin Nugroho ini merupakan kampanye LGBT yang dihadirkan secara terang-terangan.

Surat larangan tayang-pun dikirimkan kepada LSF dan BPI oleh beliau. Namun timbul pertanyaan saya sebagai mahasiswa film yang berasal dari Sumatera Barat. Apakah beliau sudah menonton film tersebut? Dan masyarakat yang mencekam sudah menonton juga? Pertanyaan tersebut saya hadirkan kepada beberapa masyarakat Minangkabau yang juga mencekal penayangan film Kucumbu Tubuh Indahku yang di Sutradarai oleh Garin Nugroho, namun jawaban yang saya dapatkan hanya kata “belum”.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=wYGc5b9q1I0

Begitu juga dengan fenomena yang sama, namun film yang berbeda, yaitu film Dua Garis Biru yang juga mendapat perlakuan yang sama oleh Pemerintah dan beberapa pihak. Mereka menyebutkan bahwa film Dua Garis Biru yang di Sutradarai oleh Ginatri S.Noer.

Film yang mengisahkan tentang dua orang remaja SMA bernama Dara dan Bima yang berpacaran sampai melampaui batas. Film ini bisa menjadi cermin bagi kehidupan remaja dan anak muda di zaman sekarang yang tak lagi punya batasan.

Di pertengahan cerita, dunia Bima dan Dara tak lagi berwarna, terlebih keduanya harus menjadi orang tua. Film ini membawa pesan tentang hubungan yang salah bisa membawa banyak masalah. Konflik demi konflik digambarkan gambling penuh pesan satir dan sentilan. Utamanya tentang pentingnya edukasi seksual kepada generasi muda yang sering dianggap tabu. Padahal topik ini adalah hal penting terutama penting dibicarakan orang tua kepada anak-anak.

Dari dua contoh di atas kita dapat menganggap bahwa pemerintah terkhususnya Sumatera Barat masih memandang film hanya dari satu sudut pandang saja dan terlalu melihat lurus dengan jalan cerita yang dihadirkan di dalam film. Dari film Kucumbu Tubuh Indahku kita bisa melihat dan mempelajari budaya yang ada sebelum zaman saat sekarang ini, kita juga bisa menjadikan film tersebut sebagai seks edukasi yang bisa diajarkan kepada masyarakat, terkhususnya anak-anak yang memasuki masa pubertas.

Begitu juga dengan film dua garis biru, kita juga bisa melihat dari sudut pandang yang lain tentang apa yang dilihat dan dipaparkan dalam film tersebut. Kita bisa melihat dari segi edukasi, bukan dari segi negatif. Karena setiap hal tentu mempunya sisi negatif dan positif, tergantung darimana kita melihat dan mendalami permasalahan itu sendiri.

Dalam film Dua Garis Biru kita bisa melihat akibat dari hubungan asmara diluar batas yang dilakukan oleh sepasang remaja SMA atau sederajat. Dari hal ini kita bisa memberikan edukasi mengenai seks kepada anak-anak dibawah umur maupun remaja saat sekarang ini. Mengingat banyaknya kasus-kasus perniakahan dibawah umur, pelecehan seksual, dan lain sebagainya sangat banyak terjadi. Hal ini juga bisa menjadi antisipasi yang diberikan pemerintah dan orang tua terkhususnya untuk mendidik dan mengajarkan anaknya tentang seks edukasi.

Dari dua film yang dicontohkan, masyarakat seharusnya bisa mengambil sisi positif yang ada dibalik film yang dibuat dan dihadirkan oleh sineas-sineas Tanah Air. Kenapa film tersebut mendapat banyak penghargaan di Luar Indonesia, namun mendapat cekaman di Negara asal film tersebut diproduksi. Ini juga menjadi catatan penting untuk Badan Pengurus Film yang ada di Indonesia.

Film saat ini bukan film yang menjual pemandangan indah dari tubuh artisnya sendiri yang sempat kita lihat pada film Indonesia sebelum ini, namun film yang penuh dengan esensi dan edukasi yang dihadirkan oleh seniman-seniman audio visual Indonesia. Dan ini juga menjadi PR untuk lembaga pendidikan yang menyediakan program studi Televisi terkhususnya Film.

Kritikus dan pemerhati film juga mempunyai peran dalam kemajuan film Indonesia seharusnya, bukan hanya diam dan menjadi penonton yang serba tahu apa yang ada dalam fikiran orang-orang di belakang layar dalam penggarapan sebuah film, terkhususnya Sutradara. Tentu ada tanda dan makna yang akan dihadirkan oleh Sutardara itu sendiri.

Dari materi dan pembahasan yang dihadirkan di atas, dapat disimpulkan bahwa aktifitas perfilman Indonesia saat ini mengalami peningkatan dan memberikan berbagai edukasi kepada masyarakatnya, namun beberapa di antaranya belum mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah maupun masyarakat penikmat film itu sendiri. Adapun saran yang dapat diberikan yaitu;

  1. Sebelum mencekal sebuah film untuk ditayangkan, sebaikan pemerintah menonton terlebih dahulu film yang akan ditayangkan dan mendiskusikannya dengan beberapa pihak, terkhususnya Sutradara dan badan perfilman yang ada di Indonesia.
  2. Setelah mendiskusikan film tersebut, pemerintah juga sebaiknya memberikan demo atau arahan mengenai pesan-pesan yang ada dalam film tersebut, guna membantu distribusi dan pemahaman masyarakat terhadap film.
  3. Kritikus-kritikus film Indonesia juga sebaiknya memberikan perannya terhadap film yang ada di Indonesia, tidak hanya memberikan poin negatif yang ada pada perfilman Indonesia.
  4. Lembaga pendidikan, khususnya Televisi dan Film memberikan arahan dan sudut pandang pengajaran terhadap materi film yang akan digarap oleh mahasiswa.
  5. Mahasiswa Televisi dan Film di Indonesia sebaiknya lebih aktif dalam menganalisis sebuah film dan isu yang ada dalam film yang berguna untuk masyarakat yang akan menjadi penonton dan penikmat film.
  6. Masyarakat sebaiknya mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda dari film yang ditonton guna memberikan edukasi kepada penonton it

Satu tanggapan untuk “Makna Yang Tidak Tergambarkan

  1. Sangat suka dengn essayny bg…
    Benar sekali…
    Kebnyakn orang sekarang hanya ikut”an tanpa menonton dulu film yg mereka anggap mempnyai dampak negatif..pdahal disisi lain film film tersebut mempunyai pesan yang sangat penting untuk dipahami oleh orang” pada masa skrang ini…
    Dan seharusnya menilai sebuah karya film itu tidak bisa dari satu sisi saja.. krna sebuah krya film diciptakan pasti mempunyai tujuan dan pertimbangan yang matang dari para pembuat film yg ingin disampaikan k penonton

    Suka

Tinggalkan komentar